Testimoni orangtua alumni SD Pantara

 

Perjalanan Panjang Mengantar Sang Buah Hati

 SAYA masih ingat sekali, tatkala menunggu kehadiran anak ketiga saya di sebuah rumahsakit, di Yogyakarta, ditemani beberapa orang saudara. Begitu dokter yang menangani menyelesaikan tugasnya, seorang suster menghampiri saya. “Selamat anak bapak laki-laki…,” ujarnya sambil mengajak bersalaman.

Saya mencoba untuk bersikap biasa-biasa, padahal hati saya berbinar-binar mendengarkan kata-kata yang baru saja diucapkan suster tadi. Sebuah kalimat yang menurut saya merdu sekali. Subhanallah, saya telah dikaruniai seorang jagoan, yang bakal menjadi kompetitor saya sebagai seorang laki-laki di rumah. Selama ini, selain saya di rumah tak ada laki-laki lain kecuali saya karena kedua anak saya yang lahir duluan adalah perempuan. Segala puji bagi-Mu ya Allah!

Riwayat kehamilan ibunya dalam mengandung  anak ketiga ini memang beda dengan anak-anak saya yang terdahulu. Beberapa kali terjadi pendarahan…. Dokter mengatakan placenta berada di bawah atau placenta previa, sehingga suplai oksigen ke otaknya tidak optimal.

Saat kelahiran pun tiba (21/5/1990), buah hati keluarga, yang kemudian kami beri nama Elang Mohammad, hadir melalui operasi sesar.

Hingga memasuki usia sekolah, tidak tampak memiliki masalah tumbuh kembangnya. Di bangku TK, seperti anak-anak lainnya mau bermain dan bisa mengikuti instruksi yang diberikan gurunya. Hanya saja, kalau kita jeli – saat itu kami suami istri bekerja – ada sesuatu yang tidak biasa. Elang terlalu pendiam, tidak banyak bicara. Hal ini sempat membuat saya dan ibunya khawatir. Namun, selalu saja jawabannya sereotip (termasuk dari seorang dokter). “Biasa…, namanya juga anak laki-laki!”

Kondisi demikian berlangsung hingga sang jagoan di kelas satu sekolah dasar dinyatakan tidak naik kelas. Apa gerangan yang terjadi?

Inilah titik tolak “perjalanan” panjang mengantarkan sang buah hati untuk memperoleh hak pendidikan bagi semua warga yang diatur undang-undang. Tentu saja, kami tidak tinggal diam. Beberapa profesional kami kunjungi untuk berkonsultasi. Psikiater anak, psikolg anak serta ahli pendidikan atau guru. Sementara, di tengah kesibukan kerja kami juga mencoba untuk melihat secara jernih aktivitas sehari-harinya.

Seorang psikiater anak memberikan solusi kepada kami agar mencari sekolah yang siswanya sedikit (manajemen kelas kecil). Namun, hal itu bukan perkara mudah. Karena itu, kami terpaksa mempertahankannya untuk mengulang di sekolah yang sama, sebuah sekolah negeri yang kelasnya diisi 40 siswa (bisa dibayangkan hiruk-pikuk suasana belajar mengajarnya) yang sangat mungkin gurunya tidak memahami ada anak-anak yang memiliki kondisi spesifik sepert Elang.

Lagi-lagi, Elang dinyatakan tidak naik kelas. Langit serasa runtuh ketika kami mendengar kabar itu. Kami harus serius mempedulikan pendidikan Elang.

Mulailah kami mencari sekolah yang ideal buat Elang, yang ternyata memiliki gangguan dalam aktivitas membaca. “Dia terindikasi sebagai anak penyandang disleksia,” kata seorang psikolog.

Disleksia adalah gangguan dalam aktivitas seseorang untuk membaca, karena adanya disfungsi minimal otak (DMO), artinya di dalam otaknya bercampur aduk sinyal-sinyal di antara indera dan otaknya. Biasanya, juga akan membuat konsentrasi anak terganggu.

Singkat kata kami harus kembali shoping sekolah untuk  tempat belajar yang pas buat anak  laki-laki kesayangan kami.

Kami menemukan jawabannya melalui informasi dari seorang psikiater anak – konon beliau termasuk yang menggagas berdirinya sekolah ini bersama Ibu Umar Wirahadikusumah dan Ibu Atie W. Sukandar – yaitu SD Pantara.

Benar, melalui serentetan observasi, Elang “diterima” sebagai siswa Sekolah Khusus SD Pantara yang saat itu masih menempati gedung milik  Depdiknas, yang sekarang dipakai labschool, di jalan KHA Dahlan, Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Benar saja, Elang merasa nyaman berada di lingkungan baru sekolahnya. Tata ruang yang tidak klasikal, bangku sekolah yang tidak kaku, siswa-siswanya idak berdesak-desakan dan yang – barangkali – sangat penting adalah sentuhan-sentuhan personal guru-gurunya.

Tidak memerlukan waktu lama, barangkali tidak sampai satu semester Elang sudah mulai mampu membaca, tulisannya walau masih gaya ‘ceker ayam‘ mulai menunjukkan sesuatu yang bisa dibaca. Apa yang terjadi pada anak saya?

Saya penasaran. Apa yang dilakukan guru-guru Pantara terhadap siswa-siswanya? Dengan mengendap-endap saya mendekati jendela kelasnnya, ingin tahu.

Selain, tidak pernah terdengar nada keras dan nada mengancam dari gurunya yang selalu sabar (satu hal yang bagi orangtua kadang-kadang sulit melakukan) ada sentuhan-sentuhan spesifik  bagi siswa yang sulit mengenali simbol-simbol huruf untuk dirangkai menjadi sebuah kata yang kemudian dirangkai sebagai senbuah kalimat.

Saya sempat menyaksikan Elang berada di depan teman-temannya yang duduk berkeliling. Apa yang sedang dilakukan gurunya terhadap anak saya. Ternyata, sang guru sedang menuliskan suatu huruf di punggungnya. Kemudian siswa harus menyebutkan huruf apa yang ditulis dipunggungnya.

Sebuah upaya sederhana yang memiliki dampak yang dahsyat bagi seorang penyandang disleksia seperti buah hati saya. Tentu saja itu adalah salah satu upaya agar anak penyandang disleksia bisa belajar membaca. Tentu masih segudang upaya, yang mungkin tak pernah ada habis-habisnya. Dituntut kreativitas bagi guru-guru yang ingin mengajar anak-anak berkesulitan belajar sepert Elang.

Tidak pernah saya bayangkan, bila tidak pernah ada sekolah khusus semacam SD Pantara. Penolakan demi penolakan akan selalu dilakukan sekolah-sekolah regular yang ada bagi anak-anak semacam Elang .

Elang telah tumbuh menjadi seorang pemuda, telah menyelesaikan sekolahnya di Sekolah Menengah Ilmu Perhotelan dan telah lulus pula dari Sekolah Tinggi Perhotelan swasta di Jakarta dan saat ini telah bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Tidak terbayangkan sebelumnya, buah hati yang satu ini akan menjadi mahasiswa. Jauh dari ekspektasi saya ketika hari-hari awal menjadi siswa di SD Pantara. Semoga langkah demi langkah Elang selalu bisa menapaki jenjang pendidikannya untuk meraih masa depannya.

Karena itu, tidak berlebihan bila saya sekeluarga mengucapkan terimakasih kepada institusi pendidikan SD Pantara yang telah membuka cakrawala luas bagi masa depan anak saya yang terus terang hati kecil saya pernah merasa khawatir.

Bagi para orangtua yang dikaruniai anak berkesulitan belajar semacam anak saya, tidak pada tempatnya bila kemudian putus asa, tak pernah memberikan dorongan semangat bagi anaknya. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah sabar dan jangan pernah lupa memohon kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana.

Salam!

Arifin Mohammad

Orangtua Elang Mohammad, alumni SD Pantara.

Catatan redaksi : sampai saat ini Bapak Arifin Mohamad menjadi relawan di Yayasan Pantara, di bidang penyusunan dan produksi Buletin Suara Pantara. Terima kasih Pak Arifin….

Great Quotes of Dyslexia

Erin Brockovich, lawyer and advocate

“When someone helping you gets frustrated, don’t let them. Take a step back, because you can’t learn anything under pressure. And don’t worry about the label [dyslexia]!”

Erin Brockvich Book Signing

Hari Ayah Siswa Intervensi Dini Pantara

Kegiatan Setelah Ulangan ….

Guru dan siswa/siswi…

Alamat & peta Sekolah Pantara

 

Yayasan Pantara – Sekolah Pantara 

Gedung STIE Widya Jayakarta Lt 2 & 3

Jl. Tebet barat dalam VI No. 39-41

Jakarta Selatan 12810

telp/fax : 021 – 8379 6990 dan 021 – 8370 0683

email : pantara@indo.net.id, fb : Yayasan Pantara

 

peta pantara

 

 

 

 

TOKOH PENYANDANG LD

Berikan perhatian, kasih sayang, dan upaya yang terbaik untuk ananda yang spesial. Mereka punya kesempatan yang sama dengan anak lainnya untuk menjadi apapun yang mereka mau.

Berikan perhatian, kasih sayang, dan upaya yang terbaik untuk ananda yang spesial. Mereka punya kesempatan yang sama dengan anak lainnya untuk menjadi apapun yang mereka mau.

siswa-pantara-foxBELAJAR & Berprestasi adalah harapan semua orang tua yang ditumpukan kepada buah hatinya. Setiap anak memiliki kemampuan dan kekuatan sendiri-sendiri.

Sekolah berupaya memberikan layanan pendidikan bagi pengembangan potensi dasar mereka. Kenyataannya di sekolah-sekolah yang tersedia tidak semua anak (* baca : siswa!) dapat berhasil mencapai prestasi yang diharapkan.

Diantara mereka adalah anak-anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik.

sekolah-sd-pantaraSekolah Dasar Pantara didirikan pada tanggal 1 Agustus 1997, mengkhususkan diri dalam pendidikan untuk anak-anak berkesulitan belajar spesifik (specific learning difficulties/LD) atau sering disebut sebagai anak yang memiliki gaya belajar berbeda (learning diffierences). Mereka adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki kesulitan pada satu atau beberapa bidang:

  • Membaca (disleksia)
  • Menulis (disgrafia)
  • Berhitung (diskalkulia)
  • Berbahasa (disfasia)
  • Sulit konsentrasi (Attention Deficit Disorder/ADD)
  • Hiperaktif (Attention Deficit Hyperactivity Disorder/ADHD)

Yayasan Pantara

Click to open larger map